MODEL PPRK INOVASI BUAT PENDIDIKAN TERPENCIL

Perkembangan pembelajaran yang penuh inovasi selalu didengungkan oleh para pemangku jabatan di negeri ini , mulai dari tingkat kota sampai nun jauh dipelosok wilayah yang hanya dapat ditempuh dengan peluh sekujur tubuh. Tidak dapat dipungkiri lagi pembelajaran yang berlomba dengan inovasi tentunya dengan harapan agar dunia pendidikan menghasilkan anak didik yang berkualitas. Pendidikan terpencil dapat bermakna terpencil jika dilihat dari sudut pandang georafis ( lokasi sekolah yang sangat jauh dari tempat tinggal siswa serta kesulitan menjangkaunya ) , terpencil juga dapat berarti terkucilkan karena berbagai faktor infrastrukutur yang sangat minim ( seperti, jumlah guru yang terbatas mungkin hanya seorang guru , sekolah yang rusak parah ,dll ) sehingga pada akhirnya timbul ketidakbetahan siswa atau guru. Tinggallah hanya guru yang betah dan siswa seadanya. Kado adalah sebuah tips yang memberikan banyak makna agar pendidikan terpencil berhasil dan bermutu serta berdayaguna bagi guru dan siswa . Kado ini diberikan karena wilayah Kalimantan Barat memiliki ciri keterpencilan yang unik yaitu ( 1 ) dari 14 kabupaten / kota ada 5 kabupaten yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia, ( 2 ) Letak wilayah pedaman yang sangat jauh dari ibu kota kabupaten apalagi dijangkau dari ibukota provinsi.

Untuk menjangkau daerah tersebut memerlukan waktu dengan hitungan hari. ( 3 ) Letak wilayah kepulauan di sekitar Laut Cina Selatan ( seperti : Pulau Maya Karimata, Pulau Lemukutan, serta Pulau Datok ) memerlukan perhatian khusus yang saya katagorikan terpencil karena sulitnya transportasi dan komunikasi ,wilayah tersebut terisolir . Untuk menembus wilayah terpencil jika dihitung dengan nilai rupiah tak cukup dengan kata ratus ribu tetapi yang pantas dan layak dengan kata manis jutaan rupiah karena tidak ada transportasi umum yang paling indah kendaraan adalah ojek atau carter. Memandang wilayah terpencil di Kalimantan Barat jangan diukur dengan berdiri dari puncak tugu khatulistiwa tetapi melihat dari fakta perjalanan orang yang peduli terhadap wilayah terpencil. Di wilayah terpencil – Kalimantan Barat -, tentunya terdapat Sekolah Dasar ( SD / MI ), Sekolah Menengah Pertama ( SMP / MTs ), Sekolah Menengah Atas ( SMA / MA ), Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK/MK ). Sekolah tersebut tentunya penuh keterbatasan, yang paling serius adalah keterbatasan ( kekurangan atau ketiadaan ) tenaga pengajar atau guru. Satu Sekolah ( SD, SMP , SMA/K ) di daerah terpencil mungkin ada seorang, dua atau paling banyak tiga orang, bahkan banyak guru honor yang siap membantu walau upah yang diterima tak sebanding dengan ilmu yang diberikan pada anak bangsa ini. Sistem pembelajaran di daerah terpencil tidak hanya ada di republik ini , namun di negara maju juga ada , seperti Amerika Serkat, Australia, Finlandia, Inggris, Jepang, Kanada.

Namun kepedulian mereka ( guru daerah terpencil ) , perlu diberikan masukan, bagaimana mengatasi situasi pembelajaran di daerah terpencil. Berikut ini diberikan beberapa tip agar dapat melaksanakan tugas semaksimal mungkin. Namun yang paling banyak ditemukan Pendekatan Pembelajaran Rangkap Kelas ( PPRK ) di level Sekolah Dasar ( SD ). Pendektan Pembelajaran Rangkap Kelas ( PPRK ) merupakan salah satu solusi pembelajaran bagi jumlah guru yang terbatas. Bahkan, ada sekolah yang diasuh oleh seorang guru saja ( one- teacher- school ).

mujahir-laskar-pelangiModel penerapan Pendekatan Pembelajaran Rangkap Kelas ( PPRK) yang kemungkinan dapat dilaksanakan sesuai daerah masing-masing sebagai berikut : Setidak-tidaknya, ada 5 model/pola PPRK menurut Anwas M. Oos, yaitu: (1) seorang guru menghadapi siswa yang berada pada dua ruangan untuk dua tingkatan kelas yang berbeda, (2) seorang guru menghadapi siswa dalam tiga tingkatan kelas yang berbeda dalam dua ruangan kelas, (3) seorang guru menghadapi dua tingkatan kelas yang berbeda dalam satu ruangan, (4) seorang guru menghadapi tiga tingkatan kelas yang berbeda pada dua ruangan kelas, dan (5) seorang guru menghadapi tiga tingkatan kelas yang berbeda dalam satu ruangan kelas. Di dalam proses belajar-mengajar model PPRK yang dilaksanakan, para peserta didik dikondisikan sedemikian rupa agar mereka senantiasa aktif belajar dan khususnya belajar mandiri (independent learning), baik secara perseorangan maupun kelompok, tanpa harus sepenuhnya tergantung pada guru. Pendekatan Pembelajaran Rangkap Kelas ( PPRK ) memiliki beberapa kriteria sebagai berikut : (a) adanya penggabungan siswa yang berasal dari 2 atau lebih tingkatan, (b) seorang guru ditugaskan untuk membelajarkan para siswa gabungan yang terdiri dari beberapa tingkatan, (c) seorang guru melaksanakan tugas-tugas mengajarnya kepada para siswa gabungan secara serempak, dan (d) siswa secara individual maupun di dalam kelompok (tingkatan) tetap dikondisikan oleh guru untuk tetap aktif belajar sekalipun guru sedang memberikan bimbingan kepada siswa tingkatan tertentu. ( Little : 1995 ). Hal ini perlu diberdayakan oleh ” Sekolah satu guru ” Model PPRK ini diterapkan di beberapa negara seperti ; Peru, Northern Territory of Australia, Swedia, Zambia, Prancis , Jepang, Vietnam ( Little, 1995; Swali , 2004 ; Pridmore, 2004) .

Pada model PPRK ini diharapkan Pemerintah mempromosikan sekolah-sekolah pada peserta didik atau orang tua yang tinggal di daerah-daerah pedesaan dan terpencil dengan jumlah penduduknya yang jarang dan kurang beruntung (disadvantaged). Dengan pola ini mungkin pemerintah dapat mengadakan percepatan untuk (1) mengurangi kesenjangan pendidikan antara anak-anak di daerah perkotaan dan pedesaan , serta (2) memberikan layanan pendidikan yang dapat diakses dengan mudah oleh anak-anak usia sekolah dari rumah tempat tinggalnya ke tempat belajar. Hal ini perlu dilakukan dalam rangka pelaksanaan Pendidikan Dasar Wajar 12 tahun. Kondisi PPRK tentunya sangat mendukung situasi pendidikan di Kalimantan Barat dikarenakan (a) persebaran dan keterpencilan populasi (dispersion and isolation) di pedesaan; (b) kemiskinan desa yang penduduknya dapat mencapai pada taraf hidup yang sangat miskin; (c) ekonomi keluarga yang menuntut anak-anak anggota keluarga untuk bekerja; (d) perbedaan ragam budaya dan bahasa yang digunakan; dan (e) anak-anak di daerah pedesaan terlambat mengikuti pendidikan sekolah, tingkat mengulang kelas (repetition rate) yang tinggi dan seringnya terjadi gangguan tidak bersekolah. Kesemuanya ini semakin mewarnai variasi kelas-kelas ragam tingkatan yang akan diajar guru. Keuntungan bagi siswa yang pembelajarannya dikelola dengan PPRK sebagai berikut: (a) bantuan dari sesama para siswa tidak saja hanya menguntungkan para siswa dari kelas yang lebih rendah tetapi juga para siswa dari di kelas yang lebih tinggi (kerjasama yang saling menguntungkan), (b) para siswa terkondisi untuk belajar secara independen karena para gurunya mendidik mereka untuk mengembangkan sikap independen dan efisien dalam belajar, (c) berkembangnya perasaan bangga di dalam diri para siswa karena mereka merasa lebih puas sekalipun sedikit mengalami friksi dalam kegiatan belajarnya dibandingkan para siswa sekelas yang hanya terdiri atas satu tingkatan (Rogers, 2002). Manfaat atau dampak PPRK yang bersifat non-kognitif berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh UNESCO/APEID di 12 negara di kawasan Asia Pasifik sebagaimana yang dikutip oleh Angela Little adalah sebagai berikut: ( a ). Peserta didik mempunyai kecenderungan untuk mengembangkan kebiasaan bekerja secara independen dan (b). keterampilan belajar sendiri. ( c) .

Kerjasama kelompok di antara para siswa yang berbeda usia dan tingkatan mempunyai kecenderungan berkembangnya etika, kepedulian dan tanggungjawab kelompok,( d ). Peserta didik mengembangkan sikap positif tentang saling membantu satu sama lain, (e ). Kegiatan-kegiatan belajar remedial dan pengayaan dapat ditata menjadi lebih produktif dibandingkan di kelas-kelas normal yang biasa (Little, 1995).

Sekolah-sekolah yang menerapkan PPRK, gurunya diharapkan : a. mempunyai dedikasi yang sangat tinggi, dan bersedia bekerja keras di luar jam-jam pelajaran sekolah. b. mempunyai kepedulian yang tinggi demi kesejahteraan para siswanya; c. mempunyai kesediaan untuk memberikan lebih banyak pilihan dan keleluasaan kepada para siswanya; dan d. mempunyai kesediaan untuk melakukan eksperimen, mencoba berbagai gagasan baru, dan berani menghadapi berbagai resiko (Mulcahy, 1992). Beberapa indikator yang harus difokuskan agar pengembangan sekolah-sekolah dasar yang menerapkan PPRK dapat berhasil, yaitu: a. Guru perlu mengembangkan seperangkat bekal tentang teknik-teknik mengajar dan praktek-praktek pengelolaan kelas; b. Guru membutuhkan berbagai masukan, baik yang bersifat materi maupun fisik, di antaranya yang sangat penting adalah bahan-bahan belajar terprogram (programmed learning materials) dan buku-buku teks (textbooks). c. Guru membutuhkan jaringan dukungan professional, baik yang bersifat lokal maupun yang lingkupnya lebih luas; d. Perlunya kebijakan nasional yang berkaitan dengan model pembelajaran ragam kelas/tingkatan misalnya: pelatihan para guru dan administrator, pengadaan guru dan pengembangannya, dan pengembangan bahan belajar yang di rancang dan di kembangkan untuk pembelajaran ragam kelas/ kelas rangkap. Beberapan masalah yang dihadapi oleh sekolah-sekolah yang menerapkan PPRK, antara lain adalah: a. tidak adanya pelatihan yang diselenggarakan untuk mempersiapkan /membekali para guru yang ditugaskan mengajar di sekolah-sekolah dasar yang menerapkan “pembelajaran pada kelas rangkap ” Dengan tidak adanya pelatihan pembekalan ini, maka para guru hanya mengandalkan pengalaman sebelumnya yang telah dimiliki untuk mengelola kegiatan pembelajaran di samping tentunya inisiatif atau prakarsa yang dikembangkan oleh para guru itu sendiri. b. adanya sementara persepsi yang kurang pas mengenai sekolah-sekolah dasar yang menerapkan kegiatan Pendekatan Pembelajaran Kelas Rangkap ( PPKR ).

Persepsi yang kurang pas itu adalah bahwa “Sekolah Satu Guru” atau “Sekolah Dua Guru” yang berlokasi di daerah-daerah pedesaan dan yang terpencil sebagai sekolah-sekolah yang berprestise sangat rendah sehingga kebanyakan para guru yang ditempatkan adalah mereka yang berkualifikasi rendah atau yang tidak mempunyai kualifikasi mengajar. Bahkan yang paling tragis tak mengajar dan hanya datang mengajar saat mengambil gaji saja. Pada umumnya, model SD dengan 1 orang guru atau antara 1 sampai dengan 3 orang guru, banyak ditemukan di daerah-daerah pedesaan (rural areas), baik di negara-negara yang sedang berkembang maupun di negara-negara maju. Model ini, memang sangat cocok untuk wilayah Kalimantan Barat khususnya atau Indonesia umumnya , seperti pada indikator: ( 1 ) keterbatasan jumlah anak-anak usia sekolah, keterbatasan jumlah guru yang ada, keterbatasan ruang kelas yang ada di sekolah, dan keadaan geografis yang sulit untuk mobilisasi penduduk. Bukan saja di Kalimantan Barat / Indonesia namun di beberapa di antara negara yang menerapkan “pendekatan pembelajaran ragam kelas” adalah: Amerika Serikat, Australia, Cina, Finlandia, Indonesia, Inggris, Jepang, Jerman, Kanada, Nepal, Peru, Sri Lanka, Spanyol, Thailand, Turki, Vietnam, dan Yunani. Berkaitan dengan pendekatan pembelajaran ragam kelas, ada beberapa istilah yang digunakan, misalnya: pembelajaran ragam usia (multiage teaching), kelas ragam usia (multiage classrooms), sekolah dasar kecil (small primary schools), dan kelas beda tingkatan (split-grade classrooms).

Dasar pemikiran yang melatarbelakangi penyelenggaraan Sekolah Dasar dengan model pendekatan pembelajaran ragam kelas di satu daerah/wilayah yaitu, antara lain dikarenakan sedikit atau terbatasnya: (a) jumlah siswa yang ada dan (b) jumlah guru yang terdapat di satu wilayah. Faktor lainnya adalah dikarenakan kondisi kesulitan geografis yang ada di satu daerah/wilayah sehingga membatasi mobilitas penduduk. Untuk dapat berhasil dalam mengelola Sekolah Dasar yang menerapkan pendekatan pembelajaran ragam kelas, para guru hendaknya: (a) mempunyai dedikasi yang sangat tinggi dan bersedia bekerja keras setelah jam pelajaran sekolah berakhir, (b) mempunyai kepedulian yang tinggi demi kesejahteraan para siswanya, (c) memberikan lebih banyak pilihan dan keleluasaan kepada para siswanya dalam kegiatan belajar, dan (d) bersedia melakukan eksperimen, mencoba berbagai gagasan baru, dan berani menghadapi berbagai resiko. Mengingat beban tugas dan tanggungjawab yang besar yang diemban oleh para guru yang mengajar di SD yang menerapkan kegiatan pembelajaran ragam kelas/tingkatan, maka dinilai sangat penting dan strategis untuk (a) membekali para guru yang akan ditugaskan mengajar di SD model pembelajaran rangkap kelas/tingkatan melalui pelatihan, (b) melengkapi SD yang menerapkan kegiatan pembelajaran rangkap kelas/tingkatan dengan berbagai sumber belajar yang dapat dipelajari siswa secara mandiri, dan (c) memberikan insentif kepada para guru yang bertugas mengajar di SD yang menerapkan pembelajaran rangkap kelas , misalnya saja berupa: tambahan honorarium dan percepatan kenaikan pangkat. Mudah-mudahan tulisan ini menjadikan pembelajaran bagi kita untuk meningkatkan pemerolehan pendidikan yang baik untuk anak bangsa ini.

(Dikutip dari tulisan Mujahir, M.Pd Maret 2009)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s