Kekerasan di Dunia Pendidikan, Perlukah Mendidik dengan Kekerasan ?

Posted on Updated on

Seringkali kita mendengar berita di televisi tentang terungkapnya berbagai kekerasan di sekolah kedinasan di negara kita.  Ironisnya lagi kekerasan ini dilakukan pada sekolah kedinasan sipil atau bukan militer yaitu seperti STIP, STPDN (sekarang IPDN), AIM, dan sekolah kedinasan lainnya.  Untuk sekolah militer bukan berarti kekerasan tetap dibenarkan, hanya saja proporsinya sedikit lebih disiplin dibandingkan dengan non militer.

Bila ditanyakan secara gamblang, kenapa sih kekerasan tersebut dilakukan pada junior ? apa kira2 jawabannya?  Kebanyakan menjawab :

–  agar para junior tersebut dapat patuh kepada senior2 dan para instrukturnya

–  menanamkan doktrin pada jiwa individu

–  mendidik agar terlatih untuk disiplin dan tidak lembek

–  menanamkan sifat tegas dan tidak takut menghadapi ancaman apapun

–  menempa fisik agar tegap dan gagah

–  untuk mendidik kekompakan antar angkatan agar merasa sama2 susah

–  ini bukan sekolah biasa, ini tempatnya melatih kedisiplinan

–  sudah menjadi budaya, tradisi, dan tata cara pendidikan kedisiplinan

Sayangnya setiap kali ditanyakan oleh media masa tidak pernah ada jawaban seperti itu, jawaban ini hanya dijawab oleh sesama senior saja.  Demikian pula di dunia pendidikan tinggi seperti perkuliahan, dulu dikenal dengan istilah Opspek… rasanya siksaan yang berat sekali menjadi junior semester pertama dan kedua di awal kuliah, mental junior benar2 ditempa sekeras mungkin… dibentak, dimaki, disuruh ini dan itu.  Apa hasilnya?  Akhirnya kekerasan ini menjadi budaya, sang junior yang sudah menjadi senior menurunkan cara seperti itu kepada junior2nya… selain itu mahasiswa banyak yang tingkahnya seperti preman, kuliah jarang tetapi begitu kegiatan kampus yang sifatnya mendidik junior dia paling nongol.

Ini adalah fakta yang terdapat dilapangan, karena saya rasa setiap yang pernah kuliah atau pernah menjalani pendidikan di sekolah kedinasan pasti mengalami hal2 tersebut.  Sayangnya lagi, pihak akademisi terkadang menutup-nutupi perihal ini sehingga metode pendidikan secara kekerasan ini menjadi susah untuk dihapuskan.

Yang dimaksud dengan Kekerasan didunia pendidikan disini adalah mendidik para siswa atau taruna dengan perlakuan yang mencederai fisik, seperti misalnya pemukulan, tempeleng, tendang, dan tindakan kekerasan lainnya.  Sebenarnya banyak cara untuk mendidik seorang siswa agar menjadi tegas dan disiplin, bukan dengan kekerasan seperti itu…karena ada hak asasi kita sebagai manusia disitu.

Keras itu boleh, maksudnya dalam mendidik kita perlu tegas agar siswa didik kita mengerti apa itu larangan dan apa itu kedisiplinan.  Sebenarnya kedisiplinan dapat dibentuk dengan beberapa cara yaitu :

–          Buat tata tertib dan sanksi bagi pelanggarnya.

–          Menjalankan dan mengawasi pelaksanaan peraturan dan tata tertib yang berlaku, artinya tata tertib harus dilaksanakan secara ketat, bagi siswa yang melanggar diberikan sanksi yang berlaku.

–          Menanamkan kepada siswa akan arti larangan, maksudnya bila ada kata “dilarang” itu berarti diharamkan untuk melakukan perbuatan yang dilarang tersebut, bila itu dilakukan maka berikan sanksi yang terberat misalnya dikeluarkan.  (contoh : dilarang membawa narkoba)

–          Bila ingin menempa fisik, maka lakukan dengan tanpa kekerasan misal dengan menyuruh push up, scot jump, lari keliling lapangan, baris berbaris, membersihkan WC, dan sebagainya yang disesuaikan dengan kondisi fisik dan rasional.

–          Untuk membina mental, bukan dengan cara dimaki tetapi berikan dengan nada lantang dan tegas.  Memaki akan berakibat munculnya dendam sehingga ini tidak baik dilakukan, dan jangan buat seolah2 kita memusuhi tetapi buatlah cenderung untuk kedisiplinan mereka.

–          Untuk membina kekompakan, buat tugas secara berkelompok dan berikan hukuman secara berkelompok.  Atau buat kegiatan yang sifatnya membutuhkan kekompakan misal baris berbaris, memasang tenda, ataupun buat lomba yang kalah akan mendapatkan sanksi.

–          Untuk membina ketegasan, buat tugas dengan waktu yang dibatasi dan ada sanksi dan hukuman bagi yang tidak selesai.  Sanksi tidak mesti keras, bisa dengan menambah tugas, menyuruh menghafal, menyanyi sambil berjoget dan sanksi lain yang tidak memerlukan kekerasan.  Sanksi keras boleh dengan push up atau penempaan fisik lainnya yang rasional (jangan disuruh push up 1000x misalnya, ini tidak rasional)

Dan masih banyak metode lainnya yang dapat digunakan untuk membina mental dan fisik.  Sebenarnya bila kita rangkum, untuk membina kedisiplinan didalam dunia pendidikan cukup dengan tata tertib, sanksi, dan hukuman.  Sanksi ringan adalah teguran, teguran dapat teguran biasa dan teguran keras, sanksi sedang adalah hukuman disiplin, sanksi keras adalah dikeluarkan.

Berbeda halnya dengan militer, tergantung pada tingkatannya karena militer dipersiapkan untuk bela negara dan tidak takut terhadap apapun, maka metode pembinaannya juga berbeda.. tetapi sekali lagi kekerasan tidak menjadi cara untuk mendidik disiplin dengan benar.   Alangkah lebih baik siswa dididik untuk cepat dalam mencari solusi dan tegas dalam mengambil keputusan, tidak dengan dikumpulkan dan dipukuli satu persatu sampai terluka atau pingsan.

Terkadang tata tertib yang ketat dan hukuman yang berat akan memberikan efek seperti dipenjara pada siswa, sehingga ini akan menimbulkan stress.  Mendidik dengan memacu tingkat stress tinggi tidak akan memberikan hasil yang baik, siswa akan cepat belajar tetapi tidak mengerti dan merasakan apa yang ia pelajari karena dikurung dengan hukuman.

Stress ini akan berakibat fatal, siswa akan memberontak secara diam2, mereka akan mencari tempat yang tidak terlihat oleh instrukturnya…seperti minum minuman keras di WC, merokok di WC, shabu2, pelecehan seksual, dan tindakan lainnya.  Hal ini terjadi akibat tingkat stress yang tinggi sehingga akan muncul pribadi yang keras dan kasar, mudah tersinggung dan suka berkelahi.

Inikah hasil pendidikan secara disiplin itu ? mereka akan tampak disiplin di kampus, tetapi akan menjadi pribadi yang keras dan kasar diluarnya.  Memukuli bagian dada dan kepala akan berakibat rusaknya organ dibagian dalam, dan secara kejiwaan akan menjadi menurun.  Bisa dijamin meski anda pukuli perut junior atau siswa anda setiap pagi tidak akan menjamin mereka menjadi kebal dan berotot…tetap saja sakit setiap dipukul, kecuali diberikan pendidikan ilmu kebal.  Seringkali dipukul bukan berarti akan kebal dipukul, tetapi secara kejiwaan mereka akan senang memukul karena baginya pukul memukul  itu sudah biasa dan sudah tradisi.

Mendidik orang dengan kekerasan dan tidak pada proporsinya, akan melahirkan orang yang keras dan tidak memiliki perasaan dan kemanusiaan terhadap perasaan orang lain. Sehingga untuk mendidik kedisiplinan kita perlu perlu banyak belajar tentang psikologi.  Kalau diluar negeri, yang tren diantara kepolisian adalah Psikologi masal dan psikologi kriminal. Sangat membantu polisi untuk mendidik dan melumpuhkan kriminal lewat serangan psikis. Jadi yang namanya penjahat, tidak perlu ditembak mati di tempat dia akan stress dengan sendirinya.

Jika terus seperti ini, maka kedepannya tidak akan menjadi apa2 selain ilmu kekerasan yang didapat.  Sebaiknya reformasi kekerasan didunia pendidikan tidak hanya omongan, tetapi dibuktikan dan diawasi dengan ketat.

Semoga bermanfaat.

7 thoughts on “Kekerasan di Dunia Pendidikan, Perlukah Mendidik dengan Kekerasan ?

    Nurita Putranti said:
    10 Februari, 2010 pukul 12:06 am

    aiiiiiiiiiih..kok diakhir postingan u sama dengan gaya Ita?
    pake kata “semoga bermanfaat”😆:mrgreen:

      fansmaniac responded:
      10 Februari, 2010 pukul 3:42 am

      entahlah ta, memang aku pengen tulisan ini bermanfaat ta.. aminn

    kez said:
    11 Februari, 2010 pukul 4:50 am

    mendidik dengan kekerasan bolehlah, coba lihat pencak silat,bokser,,,

    drummerfan said:
    11 Februari, 2010 pukul 7:45 am

    hahaha….saya rasa sistemnya perlu diubah menjadi biasa tanpa militer ataupun semi militer. toh ntar saat kerja mereka juga ga jadi tentara (STKIP dan STPDN)
    kampus saya juga PTK tapi tak ada kekerasan sama sekali🙂

    Chepy Amiraga said:
    12 Februari, 2010 pukul 4:41 pm

    pastinya, dengan kekerasan tidak akan ada manfaatnya .. lebih banyak mudaratnya ..
    nice post sob..
    di tunggu postingan selanjutnya ..

    salam kenal

    asep said:
    21 Maret, 2010 pukul 7:43 am

    STPDN sebenarnya sama dgn kampus biasa, kenapa ya mesti sok militer. Padahal hasil outputnya juga, kualitasnya? Mereka yg dah terjun ke masyarakat, apa sudah mampu membuat perubahan ke arah yg lebih baik? Masih gitu2 aja kok.

    dede said:
    14 September, 2011 pukul 4:01 am

    ngajarin orang disiplin,tidak selalu di sertai dgn kekerasan…bagaimana orang tersebut bisa di siplin kalau di hantui rasa benci yang besar……coba rubah mekanisme yang ada….inssawallah,,,,,suatu saat seseorang bisa menempatkan diri di situasi apapun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s