Kisah 10 Hari di Malaysia

Posted on

Sebenarnya cerita ini sudah lama, tetapi yah sengaja aku tulis agar aku dapat membacanya lagi dan tersimpan sebagai file di blog ini.  Aku mau berbagi cerita pengalamanku selama sepuluh hari di Sarawak Malaysia pada akhir tahun 2009 kemarin.  Apa tujuan ku kesana? Bukan jalan2 bukan juga rekreasi, sayangnya aku kesana bertujuan untuk berobat ke salah satu Hospital terkemuka di Sarawak Malaysia.

Di daerahku Kalbar memang Hospital Malaysia sudah terkenal dan diakui dalam pelayanan dan pemeriksaan kesehatan.  Rata2 hampir tiap hari pasien dari Kalbar maupun dari wilayah lain di Indonesia berdatangan untuk berobat ke Hospital ini.  Tak heran bila di Pontianak sudah ada kantor perwakilannya yang siap memberikan informasi dan pendaftaran sebelum berangkat ke Hospital itu di Sarawak Malaysia.

Sebelum kesana aku mendapatkan banyak saran baik dari rekan2 yang pernah berobat maupun dari ahli pengobatan alternatif langgananku untuk mencoba melakukan pemeriksaan di Hospital itu.  Konon katanya peralatan mereka sangat canggih dan berkelas International.  Memang di negara kita ada yang seperti itu, tetapi pastinya yang paling terkemuka ya di Jakarta.  Dalam keadaanku yang sakit seperti ini aku lebih memilih perjalanan melalui darat, entah mengapa aku merasa takut bila naik pesawat.  Sedangkan Sarawak Malaysia dapat ditempuh dari Kalbar melalui perjalanan darat yang tentunya masih satu pulau Borneo.

Akhirnya kuputuskan untuk meminjam uang dari abang iparku untuk biaya berobat, dan aku meminta Bapak mertuaku untuk mengantarku berobat ke Malaysia.  Sebelumnya istri dan mertuaku telah mendaftar dan berkonsultasi pada kantor perwakilannya di Pontianak. Aku dan Bapak mertua juga sebelumnya membuat paspor di kantor Imigrasi setempat.  Proses pembuatan paspor tidak lama, cukup melampirkan KTP, Kartu Keluarga, dan surat permohonan dari kepala kantor dinas tempatku bekerja.

Perjalanan Menuju Negeri Jiran

Sampailah pada saatnya aku dan Bapak mertuaku menuju ke Sarawak dengan menggunakan bus DAMRI antar negara dengan tiket yang cukup murah tidak sampai 200ribu dengan fasilitas yang lumayan dan menyenangkan.  Aku berangkat malam hari jam 21.00 WIB dan sampai di perbatasan Entikong Kab. Sanggau – Tebedu Sarawak Malaysia pada jam 04.00 dini hari.  Terlihat antrian yang sangat panjang disana, rata2 yang ngantri adalah TKI yang bekerja disana.  Rupanya gerbang perbatasan baru dibuka pada jam 05.00 WIB dan bergegas Bapak mertuaku menuju ke loket pemeriksaan, sementara aku menunggu di bis karena tidak mampu berjalan jauh.

Setelah mengantri cukup lama akhirnya Bapak mertuaku masuk kembali ke Bis dan menunjukkan paspor yang sudah dicap kepadaku, terlihat pada halaman tersebut ada cap Imigrasi Indonesia berwarna biru dan cap imigrasi Malaysia berwarna Ungu.

Perjalanan pun dilanjutkan setelah semua penumpang bis mendapatkan cap di paspornya.  Inilah pertama kalinya aku masuk ke wilayah Malaysia dan pengalaman pertamaku keluar negeri yang walaupun sebenarnya satu pulau.  Jalan mereka sangat mulus, sangat berbeda dengan jalan di Kalbar yang banyak lubang dan tidak rata.  Tampak marka jalan mereka terang dan jelas, kiri dan kanan jalan nampak hutan yang rimbun dan berkabut…sejuk sekali.

Tak satupun rumah kediaman masyarakat berada ditepi jalan, semua masyarakat mendirikan rumah di gang yang jauh dari jalan besar..sementara tepi jalan besar mereka hanya ada sawah dan bangunan publik seperti sekolah maupun kantor.  Jalannya pun terlihat sepi dan cukup lebar, berbeda dengan jalan di daerahku yang sempit dan ramai.  Sekali-sekali terlihat toko2 bertulisan China dipinggiran jalan, dan tentunya adapula yang berbahasa Malaysia.  Kehidupan masyarakat di daerah sana tidak jauh beda dengan masyarakat di Kalbar namun keadaannya tidak terlalu ramai.

Dua jam dari perbatasan sampailah aku di kota Sarawak, kotanya sangat besar… rata2 pengendaranya menggunakan mobil2 kecil yang lincah di jalan, jarang sekali kulihat truk atau sepeda motor melintas.  Mereka jalan dengan teratur dan tidak ugal2an, kecepatan pun dibatasi hanya 80 km/jam dan banyak lampu lalu lintas disetiap persimpangannya.

Akhirnya sampailah bis kami di terminal kota tersebut, sepi dan bersih begitulah pemandangan yang kulihat.  Ketika aku turun dari bis, sudah ada mobil Hospital yang menjemput kami disana sehingga kamipun langsung menaiki mobil jemputan tersebut.  Karena baru pertama kali kesana, aku agak asing mendengar percakapan antara supir angkutan yang menggunakan bahasa Melayu Malaysia.. meskipun sedikit berbeda dengan bahasa Melayu di Kalbar.  “Tunggu sekejap, kita kena tunggu bas berikutnya..” begitu kata supirnya ketika ditanyai kapan mobil ini jalan..

Pelayanan Cepat dan Mantap

Setelah menunggu cukup lama, mobil jemputan tersebut pun melaju menuju Hospital tempat aku akan melakukan pemeriksaan.  Sesampainya disana terlihat sebuah Rumah Sakit besar 4 lantai dengan banyak mobil parkir di sekelilingnya.  Kami pun langsung menuju ke bagian pendaftaran ketika turun dari mobil jemputan tersebut.

Tampak ada seorang wanita berbicara dengan bahasa logat daerah Sambas Kalbar di telponnya dan sekali2 menyebut namaku.  Aku pun terkejut dan menoleh, lalu ia pun menanyai namaku dan ternyata benar aku orang yang dicarinya.  Siapa dia? Ternyata dia adalah bibi dari keluarga istriku, mereka sudah lama menunggu.. aku senang bisa punya keluarga di Malaysia.

Pelayanannya sangat cepat, tidak menunggu beberapa lama kami sudah dipanggil menghadap dokter spesialis bedah otak saraf yaitu dokter yang akan menangani ku.  Berbeda dengan Rumah Sakit di daerahku yang bisa mengantri berjam-jam hanya untuk pemeriksaan.  “you punya keluhan apa ?” begitu kata dokter berwajah china menanyaiku dengan suara yang lantang.  Kujelaskan semua keluhanku dan dia pun tampak sibuk menulis2 berkas pemeriksaan. Setelah itu ia pun berbicara dengan susternya dengan bahasa Inggris yang mantap, wah ternyata disini kesehariannya menggunakan bahasa Inggris.

Akupun dibawa menuju Wad (Kamar Pasien) di lantai 4 gedung itu dan disuruh menggunakan baju seragam untuk pasien.  Tanganku diberi sebuah tali pengikat yang bertuliskan nama dan umur juga nomor kamarku.  Tak berapa lama kemudian datang seorang perawat pria membawa kursi roda menjemputku untuk melakukan pemeriksaan.  Waah pelayanannya cepat sekali, padahal aku baru saja datang dan tak terasa aku langsung menjalani pemeriksaan pada waktu itu juga.

Setelah mengadakan pemeriksaan yang memakan waktu cukup lama itu, aku langsung meminta bapak untuk mengambil makanan dilantai bawah yang gratis untuk 3x makan sehari.  Ternyata makanannya sedap sekali, sangat menggugah selera pasien yang sedang sakit seperti aku.. tak ayal lagi nasi pun ludes kulahap..  Rupanya mereka memiliki koki/chef tersendiri dalam menyajikan masakan sehingga menunya pun seperti restoran.

Malamnya 3 orang dokter datang memberikan hasil analisa secara bergantian ke kamarku.  Tidak ada apa-apa, itu hasil yang kudapatkan dan aku pun bersyukur karena tidak hal yang cukup membahayakan jiwaku meski sedikit bingung apa sebenarnya penyebabnya.  Aku pun menjalani psikoterapi selama 3 hari di Hospital itu.  Setelah hari keempat aku sepakat untuk keluar dari Hospital dan menginap di rumah bibi istriku yang rumahnya tidak jauh.

Sesampai dirumah bibi istriku, kami pun disajikan dengan kue dan minuman.. rumah yang sederhana namun pelayanan istimewa, senang rasanya.  Masyarakat di Sarawak Malaysia suka sekali menonton stasiun TV kita seperti TPI, Indosiar dan ANTV…stasiun TV lain agak susah dapatnya.  Acara TV mereka pun banyak menampilkan sinetron2 Indonesia setiap jam 3 sampai jam 4 sore.

Malam harinya aku pun mencoba membuka radio di HP ku, ternyata lagu2 Indonesia juga sering diputar disana.  Anak bibiku yang masih berumur 5 tahun adalah teman akrabku dirumah ini, ia sering mengajakku bermain suit gajah manusia dan semut :lol:  Dan kadang sesekali ia memintaku bernyanyi bersama lagunya Project Pop dan Gita Gutawa.. ternyata lagu ini ngetop disana.

Beberapa hal yang kulihat di sana yaitu kotanya tersusun dengan rapi, perumahan terletak jauh dari jalan besar dan tidak ada rumah dipinggir jalan.  Masyarakatnya sangat menyukai lagu dan film Indonesia, bahkan sepanjang jalan di bis ketika pulang kembali ke Kalbar aku disuguhi lagu2 Indonesia yang diputar dari HP orang Malaysia yang satu bis dengan ku.

Pada saat akan keluar menuju perbatasan Indonesia, mendadak Bis kami berhenti.. ada pemeriksaan dari Polis Diraja Malaysia, satu persatu kami menunjukkan Paspor.  Tiba2 ada seorang TKI dibangku belakangku tidak dapat menunjukkan surat izin dari atasannya.  Ia pun disuruh menelpon atasannya ditempat itu dan Polisi itu berbicara langsung dengan atasan TKI tersebut.  Sangat ketat… berbeda dengan Polisi2 di perbatasan Indonesia yang terlihat biasa saja ketika bis kami lewat.

Pengalaman yang sangat berarti, karena sebelumnya gak pernah keluar negeri sih he😀

36 thoughts on “Kisah 10 Hari di Malaysia

    azaxs said:
    26 April, 2010 pukul 9:23 am

    wah nice post.. pengalaman berharga mas..
    diakui ato tidak, memang malaysia lebih disiplin daripada indonesia..🙂

      fansmaniac responded:
      27 April, 2010 pukul 8:21 am

      @azaxs : Begitulah mas, banyak yang harus kita pelajari

    Asop said:
    26 April, 2010 pukul 1:55 pm

    Duh, ketat sekali ya penjagaannya?😦
    tentara/polisi indonesia kayak gitu juga gak ya?😆

      fansmaniac responded:
      27 April, 2010 pukul 8:22 am

      @Asop : Entahlah sop, kayaknya cuma nampang doank

    yanrmhd said:
    26 April, 2010 pukul 2:31 pm

    begitulah negara yang berfikir, bahwa kestabilan adalah segalanya…., biar ketat, tapi teratur…, aman dan nyaman…

    indonesia bisa gitu, dijamin sukses…😉

      fansmaniac responded:
      27 April, 2010 pukul 8:22 am

      @yanrmhd : Saya setuju sobat

    cutdinna said:
    26 April, 2010 pukul 6:28 pm

    seperti rumah sakit…. sebenarnya di indonesia lebih lengkap dan lebih bagus, tapi yg membedakan itu pelayanan sehingga banyak org indo lebih milih ke malay untuk berobat

      fansmaniac responded:
      27 April, 2010 pukul 8:23 am

      @cutdinna : Iya kayaknya kita harus banyak menyontoh pelayanan mereka ya??

    Didien® said:
    27 April, 2010 pukul 3:48 am

    membaca tulisan ini membuat saya miris dan malu….kenapa bangsa sebesar Indonesia tidak mampu melayani dengan maximal kepada rakyatnya…hmmm
    info yg semakin membuka mata kita mas…trimakasih.
    maaf baru sempat berkunjung, ada kesibukan yg menghimpit saya akhir² ini…🙂

    salam, ^_^

      fansmaniac responded:
      27 April, 2010 pukul 8:31 am

      @Didien : Maturnuwun mas, gpp kok smoga mas dien slalu sukses dan diberikan kemudahan amiin

    saung said:
    27 April, 2010 pukul 4:21 am

    wah…. ambil yang baiknya dan terapkan…. eh ngomong apa aku ini, semoga sehat selalu

      fansmaniac responded:
      27 April, 2010 pukul 8:35 am

      @saung : Trims sobat, makasih kunjungannya😀

    delia4ever said:
    27 April, 2010 pukul 6:48 am

    wahhh berarti mirip juga ya perjalanan batam-malay…cuma bedanya naik ferry …baru tahu.. wekekke

    Lia dulu join ama kawan buka jasa travel untuk pengobatan ke Johor… memang banyak yg prefer kesana..😦 ..
    soalnya biayanya dengan rumah sakit bagus di Jakarta hampir sama mahalnya….

      fansmaniac responded:
      27 April, 2010 pukul 10:05 am

      @Delia : Lha skrg gimana bisnis travelnya lia?? masih aktif gk?

      delia4ever said:
      27 April, 2010 pukul 4:53 pm

      Bisnisnya masih aktif pak.. di jalankan sama teman lia..
      kebetulann kemarin kita profit sharing..
      dan kebetulan lia pindah.. jadi lia quit pak…

      skrg dikelola teman.. InsyaAllah masih berjalan🙂

      fansmaniac responded:
      28 April, 2010 pukul 5:08 am

      @delia4ever : Wah mantaplah kalo gitu, berarti lia jadi investor nya donk hehe itu baru mangtabs😀

    sugeng said:
    27 April, 2010 pukul 10:09 am

    kunjugan balik dari saungpasgak. saungpasgak dibawah naungan http://smp5bogor.blogspot.com…..

    ALRIS said:
    27 April, 2010 pukul 4:32 pm

    Wah mantap, bang. Cerita perjalanannya asik. Saya suka. Salam

      fansmaniac responded:
      28 April, 2010 pukul 4:56 am

      @Alris : Salam juga sobat, thanks

    PakOsu said:
    27 April, 2010 pukul 4:33 pm

    Keren, ceritanya asik. Wah pelayanan di Malaysia oke punya, ya. Pantes aja pada berlomba kesana mau berobat. Salam

      fansmaniac responded:
      28 April, 2010 pukul 4:57 am

      @PakOsu : Iya semua kan tergantung pelayanan pak, pelanggan pastinya mencari yg pelayanannya prima kan? salam juga pak Osu

    rose said:
    27 April, 2010 pukul 5:17 pm

    kenapa negeri kita selalu ‘klah’ ma neger asing ya fans.. tentang kebersihannya, pelayanannya, tata kotanya…😕

      fansmaniac responded:
      28 April, 2010 pukul 7:02 am

      @rose : Nggak tau ya Rose, sepertinya karena rezim sebelumnya atau emang sifat asli bangsa kita kali yg gk mau berubah

    sunflo said:
    27 April, 2010 pukul 5:20 pm

    iya tuh fan, pemeriksaan dokumen2 penting di luar negeri ketat-ketat keknya yaa… kadang ngiri sama negeri2 asing,,, tapi apapun semoga anak2 negeri kita bisa mewujudkan indonesia yg lebih baik ya

      fansmaniac responded:
      28 April, 2010 pukul 7:02 am

      @sunflo : Amiin semoga aja sunflo

    aldy said:
    27 April, 2010 pukul 5:57 pm

    Kenapa nggak kontak dengan SFA mas Frans ?
    Oleh-olehnya mana neh😀

      fansmaniac responded:
      28 April, 2010 pukul 7:03 am

      @Aldy : Maklum mas cerita lama akhir tahun kemarin baru diposting skrg he… SFA itu apa ya mas??

    jarwadi said:
    28 April, 2010 pukul 4:15 am

    Mengapa negeri ini hanya melulu membangun Jakarta saja, sampai sampai saudara kita di Daerah harus berobat ke Luar negeri untuk layanan kesehatan

    salam dari yogya

      fansmaniac responded:
      28 April, 2010 pukul 7:05 am

      @Jarwadi : Betul sekali, saya setuju.. mana asas pembangunan meratanya? sungguh gk ada realisasinya.. salam kenal juga mas😀

    Arif R. said:
    28 April, 2010 pukul 9:38 am

    asik bener nih jalan-jalannya.. hmmm meski rada berat mengakuinya, tapi Malaysia memang lebih disiplin dari Indonesia

      fansmaniac responded:
      28 April, 2010 pukul 12:09 pm

      @Arif R : Begitulah mas, ironis memang…

    sahabat blogger said:
    28 April, 2010 pukul 11:27 am

    semoga rumah sakit sekelas ini bisa hadir lebih dekat dengan kita di daerah. jadi tak harus keluar negeri untuk berobat..

      fansmaniac responded:
      28 April, 2010 pukul 12:10 pm

      @sahabat blogger : bener sob, di Indonesia yg sehebat itu cuma di Jakarta.. untuk naik pesawat aja uda keluar biaya 400ribuan..belum biaya taksi daro bandara ke RS, kalo ke Malaysia dari Kalbar cuma pake bis dgn tiket 125ribu aja, sampe di terminal dijemput ama mobil RS nya gratis

    vulkanis said:
    28 April, 2010 pukul 11:32 am

    Terimakasih sobat telah berbagi

    vulkanis said:
    28 April, 2010 pukul 11:33 am

    semoga semakin sehat

      fansmaniac responded:
      28 April, 2010 pukul 12:11 pm

      @vulkanis : amiin makasih kang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s